Februari 26, 2010

Akan Dirikan Partai Baru

Berita Utama
27 Februari 2010

JAKARTA - Setelah tak menjabat ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN), Soetrisno Bachir memilih lengser dari panggung politik dan bergiat di bidang sosial serta koperasi. Namun, pengusaha asal Pekalongan ini mempertimbangkan untuk tampil kembali ke pentas politik dengan mendirikan partai baru. Hal itu diungkapkan SB, panggilan Soetrisno Bachir, saat bersilaturahmi dengan sejumlah wartawan di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, selepas mundur dari PAN, SB mendirikan Koperasi Sejahtera Anggotaku (KSA) yang tersebar di berbagai provinsi. ”Koperasi ini berorientasi sosial, berupa simpan-pinjam. Ibu-ibu yang jadi anggotanya bisa mengajukan pinjaman dengan batas Rp 1 juta. Dalam program ini saya bekerja sama dengan ekonom syariah, Mohammad Syafei Antonio,” ujarnya.

Meski masih memegang kartu tanda anggota (KTA) PAN, SB tidak lagi aktif di partai berlambang matahari itu. Dia baru akan mempertimbangkan untuk aktif lagi sebagai politikus paling cepat dua tahun ke depan. ”Karena kalau saya masuk satu bidang (koperasi), harus saya tekuni dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Soetrisno mengaku sebenarnya banyak pihak yang mendekatinya untuk bergabung ke parpol. Bahkan ada yang menawarkan untuk mencalonkan dia sebagai capres pada Pemilu 2014.

”Tapi saya sudah paham betul politik. Jangankan katanya (akan dicalonkan sebagai capres). Saya yang jadi ketua umumnya (PAN) saja nggak bisa maju,” selorohnya.

Menurut SB, beberapa kawannya bahkan sudah mengusulkan nama Sejahtera Bersama seperti inisialnya, sebagai calon nama partai baru tersebut.
Tetap Terlibat

Meski demikian, dengan kawan-kawannya itu SB sepakat untuk tetap terlibat dalam diskusi-diskusi politik dan berbagi pendapat. Hanya saja, untuk turun langsung ke panggung politik dia akan menunggu dua tahun lagi.

”Saya akan putuskan dua tahun lagi, apakah mendirikan partai baru atau bergabung ke partai lain. Apakah pendirian partai itu baik bagi saya dan baik bagi masyarakat. Kalau tidak baik, ya tidak akan saya lakukan,” tegasnya.

Jika nantinya terpanggil untuk mendirikan partai, menurut SB, hal itu karena dia meyakini tanpa lewat parpol akan sulit membawa perubahan berarti. ”Karena kalau lewat parpol kan bisa membikin aturan dan lain-lain. Itu yang jadi variabel kalau nanti saya mendirikan partai.”

Yang jelas, kalau akhirnya mendirikan partai, dia ingin partai itu kembali ke nilai moral dan fatsoen politik sebagaimana era Moh Natsir, Wilopo, dan Moh Hatta. Partai itu harus memperjuangkan politik yang bermoral, santun, dan menghargai perbedaan. ”Bukan politik yang transaksional, politik dagang sapi, dan sebagainya, tapi politik untuk menyejahterakan rakyat,” tandasnya.

Dia berpendapat, politik harus berguna untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk kemaslahatan pribadi. Kalau harus berpolitik, berarti harus memberi, bukan mengambil. ”Bukan bagaimana caranya dari berpolitik bisa mendapatkan uang, tapi melakukan pengabdian.” (A20-49)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar