Februari 24, 2010

Longsor, 16 Korban Tewas Ditemukan



Berita Utama
25 Februari 2010


BANDUNG- Hingga semalam, sebanyak 16 korban ditemukan meninggal dalam bencana tanah longsor, Selasa (22/2), yang melanda permukiman di Perkebunan Teh Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

Sepuluh korban di antaranya ditemukan pada proses pencarian yang dilakukan personel gabungan sepanjang hari kemarin, enam lainnya sesaat setelah kejadian. Jumlah korban tertimbun masih simpang siur. Semula dikabarkan mencapai 70 orang, namun pendataan di lapangan sebanyak 43 orang. Mereka terdiri atas 12 pria, 18 perempuan, dan 13 anak-anak.

Dengan ditemukannya 16 jasad korban, personel gabungan yang terdiri dari TNI/Polri dan relawan akan melanjutkan pencarian terhadapkorban tersisa pada Kamis (25/2) ini.

Proses pencarian kemarin disaksikan Wapres Boediono dan unsur Muspida Pemprov Jabar. Boediono menyerahkan bantuan dana Rp 200 juta. Kapolres Bandung AKBP Imran Yunus menyatakan pihaknya menetapkan waktu pencarian selama sepekan. Selama itu, tim akan berusaha menemukan korban yang diduga masih tertimbun. “Saat ini yang baru terdata 43 orang, termasuk 16 orang yang sudah ditemukan,” katanya.

Dua alat berat dikerahkan untuk membantu pencarian. Meski demikian, pengoperasian alat berat begu dan loader harus dilakukan secara hati-hati. Sebab tanah di sekitar lokasi labil, sehingga berpotensi menimbulkan longsor susulan.

Koordinator Rescue Relawan Soma Soparsa menyatakan, kegiatan pencarian relatif tidak sulit. Korban tidak terbenam dalam gundukan longsor sehingga mudah diangkat.

Kebanyakan terseret lidah longsoran yang panjangnya bisa mencapai 1 Km. Sebagian korban tergeletak di pinggiran sungai. Dia mengeluhkan kunjungan pejabat yang justru memecah konsentrasi personil.

Dia memperkirakan pencarian baru akan menemui kesulitan pada hari ini. Korban tersisa berada dalam timbunan utama di sekitar bangunan pabrik. Saat kejadian, pabrik baru saja memulai jam kerja. “Kedalamannya diperkirakan antara 3-10 meter, kami akan fokus ke titik tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, kerabat korban masih terus berharap keluarganya ditemukan. Sampai menjelang petang, banyak di antara mereka yang masih berada di lokasi. Salah satunya Dana (64). “Saya mencari cucu saya, Isan umur 1,5 tahun. Sampai sekarang saya belum tahu nasibnya,” tuturnya.

Kedua orang tua Isan selamat. Balita itu menjadi korban karena saat kejadian dititipkan ke sebuah tempat penitipan anak di permukiman yang tepat berada di kaki Gunung Tilu. Berdasarkan keterangan di lapangan, kejadian longsor itu berlangsung dua kali. Peristiwa pertama menghantam permukiman dan bangunan pabrik di atas.

Tak lama berselang, longsor yang lebih dahsyat menggelontorkan material hingga permukiman di bawahnya. Total keseluruhan mencapai 21 rumah, bangunan pabrik, dan mematikan pembangkit listrik karena aliran sungai sebagai tenaganya tertutup.

Musibah itu ditaksir menyebabkan kerugian hingga Rp 5 miliar. Longsor juga membuat sebanyak 200 warga perkampungan Dewata itu diungsikan. Sebanyak 100 jiwa ditempatkan di Perkebunan Teh Kanaan. Sisanya ditampung di rumah-rumah karyawan yang tidak terkena musibah serta tenda pleton.
Sementara korban selamat berupaya menyelamatkan perabotan rumah dengan mengangkutnya ke lokasi aman. Mereka tampak trauma, dan sementara menenangkan diri ke rumah kerabat.

Longsoran ke salah pusat kegiatan Perkebunan Teh Dewata itu cukup mengerikan. Lidah longsor menjulur panjang dengan pemandangan kerusakan permukiman yang begitu jelas.

Bantuan terus berdatangan. Kendaraan angkut terus menurunkan muatan. Banyak pula warga yang berdatangan ke lokasi untuk menyaksikan. Kondisinya jalan yang terjal dan berlumpur menuju lokasi kerap macet. (dwi-60)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar