Februari 22, 2010

Jajaki Pembelian Super Tucano



Berita Utama

23 Februari 2010


JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Udara (Ksau) Marsekal TNI Imam Sufaat mengungkapkan, pihaknya membutuhkan anggaran sebesar 250 juta dolar AS untuk membeli satu skuadron (16 unit) pesawat tempur Super Tucano buatan Brasil sebagai pengganti pesawat tempur OV-10 yang telah di-grounded sejak tahun 2007.

Pada awalnya dianggarkan hanya 200 juta dolar AS. Tapi, berdasarkan informasi dari produsen harganya naik, maka anggarannya tidak cukup 13 juta dolar AS per unit. ”Karena itu, TNI AU mengusulkan tambahan anggaran 50 juta dollar AS tahun 2010 sehingga total anggaran menjadi 250 juta dolar AS,” ujarnya saat Rapat Kerja dengan Komisi I di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Selain Ksau, raker juga dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Agus Suhartono, Wakil Menhan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsuddin, dan Wakil Kasad Letjen TNI Yohanes Suryo Prabowo.

Ksau menjelaskan, rencana pembelian pesawat Super Tucano ini telah diprogram dalam dua tahun anggaran yaitu tahun 2009 dianggarkan 148 juta dolar AS dan tahun 2010 sebanyak 52 juta dolar AS.
Namun, mengingat anggarannya tidak cukup, maka TNI AU mengajukan tambahan anggaran 50 juta dolar AS untuk tahun 2010 ini.

Menurutnya, keunggulan Super Tucano tidak hanya lebih murah dibandingkan dengan pesawat tempur F-16, akan tetapi juga paling murah biaya operasinya. Untuk satu jam operasi, Super Tucano hanya membutuhkan 70 dollar AS. Hal ini jauh lebih murah dibandingkan dengan F-16. ”Saya berharap Komisi I DPR, Menhan dan Panglima TNI bisa mendukung realisasi lebih cepat, tahun ini,” kata Imam.


Taktis

Lebih lanjut Ksau memaparkan, Super Tucano merupakan pesawat tempur taktis yang berfungsi sebagai counter insurgency, dan sebagai remote air control (pesawat kontrol udara). Artinya, apabila ada pesawat yang lebih kencang seperti F-16 bisa memberitahu sasarannya.
Dikatakan, keunggulan lainnya, mampu membawa amunisi minimal 1.500 kilogram.

Selain itu, pesawat ini juga digunakan oleh banyak negara termasuk AS. Super Tucano juga lebih unggul karena bisa beroperasi minimal tiga jam. Di Brasil sendiri, pesawat ini berhasil mengurangi illegal logging dan trafficking.

”Spesifikasi pesawat tempur Super Tucano ini paling lebih baik dan lebih besar. Digunakan sebagai pesawat tempur taktis, dan counter insurgency serta remote air control, dan juga akan digunakan sebagai pesawat intai,” tutur Imam.

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengatakan, proses pembelian pesawat ini dilaksanakan pada Renstra II Tahun 2010-2014 dan TNI AU telah mengajukan anggaran pembelian beserta dukungannya sebanyak 16 unit untuk satu skuadron.

Terkait dengan upaya pemberdayaan industri strategis pertahanan nasional, menurut Panglima TNI, direncanakan menjalin kerja sama atau melibatkan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), dalam berbagai hal yang menyangkut pelatihan, jaminan ketersediaan suku cadang, persentase kandungan lokal dan alih teknologi.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Kementerian Pertahanan telah berkomitmen untuk mendorong kemandirian industri pertahanan melalui program revitalisasi industri pertahanan.(J22,K32-49)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar